release all your burdens
through heavy breathing
even though I said
"Everything is alright"
You know I'm lying
I can't promise you
I will only hug you
there is no eternal winter
the sun will come
wait a little more
hold on for a little longer
I'm always there with you
I'll always be there
Coretan Rasa
Selasa, 11 September 2018
23:27
Senin, 10 September 2018
DELUSI
semakin aku memikirkanmu
semakin aku merindukanmu
semakin aku membencimu
semakin aku merindukanmu
berapa malam lagi
aku harus menunggu
berapa lama lagi
agar kamu datang
akankah hari itu tiba
hari yang diimpikan
akankah mimpi menjadi nyata
mimpi yang membawa senyuman
untuk menjadi kita
ini cerita kita
mengapa mereka yang berperan
bisakah kamu menungguku sebentar lagi ?
aku akan datang
bisakah kamu menungguku sebentar lagi?
aku akan datang, bertahanlah
Kamis, 06 September 2018
4'Oclock
suatu hari, aku menulis surat yang panjang untuk bulan.
Ia tidak lebih bersinar darimu, tapi aku menyalakan lilin kecil.
di suatu taman saat fajar, burung tanpa nama bernyanyi..
dimanakah kamu....
mengapa kau menangis, padahal hanya ada aku dan kamu disini..
aku dan kamu..
suara nyanyianmu yang menyelinap kedalam malam membawa merahnya pagi selangkan demi selangkah lagi..
saat fajar mulai sirna, dan bulan mulai tertidur
cahaya biru yang ada bersamaku pun
Menghilang....
Senin, 30 Juli 2018
DIORAMA
"harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia tapi kita dalam diorama".
"harusnya sisa masa kubuat indah menukar sejarah tapi kita dalam diorama".
Entah apa yang ada di presepsi orang lain ketika mendengarkan lagu Diorama -nya Tulus, aku menjadi teringat suatu kisah ketika mendengar lagu itu.
Satu kisah dimana tidak ada penjelasan, hanya diterka-terka, hanya sekedar "mungkin".
Hari itu entah kenapa Ia tidak seperti biasanya, Hari itu aku merasa Ia lebih perhatian dari sebelumnya, hari itu kita mengisi hari dengan bertukar kabar dari pagi hingga menjelang tidur.
bahkan hari-hari berikutnya, sampai akhirnya kita bertemu.
tetapi setelah pertemuan itu tidak ada lagi komunikasi, perhatian, sama sekali tidak ada, aku berpikir mungkin oke seperti sebelum-sebelumnya, rasa rindunya sudah hilang, makanya Ia tidak "meneruskan".
lalu hari berganti hari, akhirnya ketika luka lama ku mulai reda, aku kembali kepada orang itu, sampai ada satu moment dimana media sosial lah yang berpengaruh. Hari itu potretku ada di media sosial orang itu. lalu entah kenapa setelah melihat hal tersebut, Ia membuat sebuah unggahan dengan tulisan "Pergilah Jangan Kau Kembali".
Melihat postingan itu aku mulai kepikiran dan berpikir apakah itu untukku? Jika memang iya, mengapa bisa aku tidak peka, aku pikir Ia datang hanya untuk melepas kerinduan saja seperti biasanya tanpa ada maksud lain.
semuanya sudah terjadi, tetapi tidak ada yang bisa dirubah dari hubungan ini. mungkin karena kita seperti Diorama, dan Allah lah yang menjadi Seniman nya. karena setelah bertahun-tahun pun kita tetap tidak bisa bersama.
Rabu, 04 Juli 2018
Tersadar
Mengapa perasaan yang sudah ada bertahun-tahun lamanya masih selalu sama hingga saat ini.
Masih selalu berdebar ketika bertatap muka.
Masih selalu gugup ketika saling berbicara.
Dan masih selalu khawatir ketika tidak bertukar kabar.
Masih selalu berdebar ketika bertatap muka.
Masih selalu gugup ketika saling berbicara.
Dan masih selalu khawatir ketika tidak bertukar kabar.
Masih teringat bagaimana bahagianya ketika hubungan kita masih baik-baik saja meskipun sudah tak bersama.
Tetapi sekarang, mungkin untuk sekedar besenda gurau saja kamu enggan.
Apakah sebenci itu?
Apakah sebenci itu?
Malam itu menjelang shubuh, membuatku semakin tersadar, bahwa perasaanmu sudah benar-benar hilang. Hingga pagi menjelang, melihatmu membuatku ingin menangis sekencang-kencangnya.
Pagi yang dingin, hanya melihat punggungmu saja membuat hatiku seperti tertusuk pedang panas.
Pagi itu, kamu tidak tau, dalam dekapanmu aku menangis, hatiku sakit. Karena aku mulai tersadar, dekapanmu hanya untuk saat itu saja.
Tersadar betapa bodohnya aku yang sebelumnya merengek meminta kejelasan tetapi kembali tenggelam kedalam pemanfaatan yang kamu bicarakan.
Sulit untuk menyalahkan siapapun, sulit untuk menghapus ingatan itu. Sulit pula untuk menghadapi kenyataan bahwa hal itu tidak didasari dengan kasih sayang, melainkan hanya peluang.
Jumat, 09 Februari 2018
DIA
silent is golden katanya, terkadang memang ada situasi dimana kita harus diam agar hubungan tetap terjalin dengan baik.
terkadang kita sudah tau apa yang akan terjadi ketika kita mulai "bicara".
terkadang kita menjadi seolah olah akan siap menghadapi situasi yang berbeda dari sebelumnya.
tapi nyatanya memang semuanya membutuhkan proses.
ketika dimana hal yang selalu kita pendam di keluarkan secara tiba-tiba dan situasi mulai berubah.
ketika apa yang diharpkan tidak sesuai dengan ekspektasi akan timbul penyesalan.
hubungan antar manusia memang rumit, dimana apa yang ditangkap oleh panca indra kita tidak sesuai dengan apa yang "dia" tangkap.
bicara tentang "dia".
dia yang mungkin tidak pernah memikirkan apapun.
dia yang mungkin tidak merasa bersalah.
dia yang mungkin tidak peduli.
dia yang mungkin acuh terhadap apa yang Ia bicarakan.
dia yang mungkin tidak pernah merasakan apa yang "saya" rasakan.
bicara tentang "saya"
saya yang mungkin menyesal
saya yang mungkin ingin mengulang waktu
saya yang mungkin ingin melupakan
saya yang mungkin berkespektasi terlalu tinggi
saya yang mungkin terlalu naif
saya yang mungkin "mencintai" terlalu dalam
bicara tentang "mencintai"
mencintai bukan berati harus memiliki katanya, entah itu benar atau tidak tapi yang saya rasakan memang benar. ketika kita mencintai seseorang dengan sangat tulus, sebenarnya kita tidak akan peduli dengan siapa Ia akhirnya akan bersanding.
yang saya pikirkan hanyalah
kamu baik baik aja kan?
kamu sehat kan?
kamu makannya bener kan?
kamu tidurnya bener kan?
urusan kamu lancarkan?
ibadah kamu masih terus kan?
bukan tentang hubungannya dengan "orang lain" tetapi tentang dirinya sendiri, meskipun saya tau dibenaknya tidak pernah terbesit pertanyaan itu untuk saya.
mendengar kabar "dia lagi sakit loh" sangat lebih menyakitkan hati dibandingkan "dia lagi deket sama cewe loh"
kadang ada waktu dimana pikiran saya dipenuhi oleh pertanyaan pertanyaan tentang dia, terkadang ego saya muncul untuk benar-benar mempertanyakannya. tetapi saya selalu tersadar lagi karena saya pernah berjanji tidak akan pernah menggangunya lagi.
bicara tentang "mengganggu"
apa dicintai seseorang itu akan merasa terganggu?
mungkin dia pernah terganggu oleh saya dengan pertanyaan-pertanyaan saya waktu dulu.
saya tau dia terganggu karena sering terlontar kalimat
"banyak nanya ih"
"bawel ih"
ketika dahulu presepsi saya perasaan saya dan dia sama, kalimat itu tidak mengganggu saya. tetapi ketika saya tau yang sebenarnya, seharusnya dengan keluar kalimat itu saya sudah harus tau bahwa dia terganggu.
masih sangat jelas di ingatan saya bagaimana senangnya ketika terbangun ada pesan masuk yang hanya ber isi kan
"udah tidur?"
ngobrol hanya untuk sekedar bertukar kabar, hanya untuk pertanyaan pertanyaan yang biasa dilontarkan oleh orang lain, tetapi ketika dia bertanya entah mengapa sebahagia itu.
Jumat, 17 Mei 2013
cerpen
Cerita ini sebenarnya cerpen ke 61 saya,tapi cerpen ini adalah cerpen pertama saya yang saya tulis di blog ini,ohiya cerita ini benar benar fiksi jadi saya mohon maaf apabila ada kesamaan cerita,tokoh atau yang lain lain;) hope you enjoy the short story
. AYAH,MAAFKAN AKU penulis : @vanyasitar
Aku benci masuk sekolah ini,sekolah kumuh sekolah lusuh kenapa sih mami masukin aku ke sekolah kaya gini?emangya gak ada sekolah lain apa di kota ini yang lebih bagus?disini jarang ada transportasi umum,ini benar benar kampung,aku senang sih tinggal disini untuk beberapa saat,maksudku hanya untuk liburan ya.bukan menetap sampai yang aku gak tau sama sekali berapa lama. Okey aku akui view disini sangat indah,rumahku di atas puncak bukit dan aku bisa melihat pantai dari sini. Apalagi ketika sunset,pemandangan pantai dari atas bukit itu benar-benar sangatlah indah. Rumahku yang sekarang sangatlah berbeda dengan rumahku di jakarta. Kamarku yang suhunya selalu sejuk karena AC sekarang berubah total. Suhu nya menjadi sangat tidak karuan. Kamarku yang semula penuh dengan tempelan tempelan majalah berubah hanya menjadi bilik bilik yang rapuh. Sepertinya jika ada hujan badai yang sangat besar rumahku ini akan runtuh..fiuh. disinipun angkot dijadwal,hanya lewat pukul 7 pagi,12 siang,dan 5 sore. Dan lebih parah lagi, aku sama sekali tak diperbolehkan bawa mobil ke sekolahku yang sekarang. Padahal dijakarta aku bebas menggunakan mobilku. Jika berjalan kaki aku bisa sampai ke sekolah sekitar 1 jam. Aku gak tau persis berapa kilometer jaraknya.tapi sangat bisa di bayangkan. Aku yang sudah cantik,rapi untuk pergi ke sekolah dari rumah.tiba di sekolah dengan keadaan lusuh,kucel dan tidak karuan.dan hari pertama masuk sekolah aku sama sekali tidak diantar oleh mami. Memang tidak nyasar karena hanya itu satu-satunya SMA di daerah ini, tapi setidaknya mami mengantarku untuk hari pertama saja. Entah apa yang dilakukan ayahku di jakarta sehingga aku harus tinggal disini,penjelasan mami tidak pernah jelas, Ia hanya ingin pisah dengan ayahku. Dan kembali ke kampungnya. Dan tentu saja membawa aku,anak satu-satunya. Sebenarnya aku tidak terlalu keberatan,setres,depresi dan sebagainya ketika mami memutuskan untuk bercerai dengan ayah. Karena aku dan ayah hanya pernah bertemu 15kali, perkiraan ku seperti itu,karena ayahku bekerja di aussie sejak mami menikah dengannya dan hanya pulang 1tahun sekali,itupun hanya 1hari. Dan aku tidak membiasakan diri dekat dengan ayah. Jika ayah pulang pun aku tidak menyambutnya aku hanya diam di kamar. Sampai ayah datang menghampiriku ke kamar dan menanyakan keadaanku. Selalu seperti itu saat ayah pulang. Jadi yang membuatku depresi bukan karena mami yang bercerai dengan ayah tapi karena kepindahan ku ke kampung asal mami ini,karena aku meninggalkan teman-temanku,karena aku meninggalkan club modern dance ku,karena aku meninggalkan kamarku,karena aku meninggalkan.....Alan. Alan berjanji kepadaku akan mengunjungiku 1bulan sekali. Alan lelaki sempurna,dia adalah cinta pertamaku,setelah 15 tahun aku menjaga hatiku rapat-rapat,akhirnya ada yang mampu membuatku luluh, dia Alan Winara,hidungnya mancung.itu yang paling aku suka. Aku berpacaran dengannya sudah 3 bulan.waktu yang sangat singkat sehingga kita harus terpisahkan oleh jarak. Huhuhuhhu Ketika masuk kelas,aku menyadari semua mata di kelas itu memperhatikan aku mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki,aku benar-benar risih diperhatikan seperti ini. Ruangkan kelas ini lumayan bagus karena temboknya berwarna pink muda,yayyy i love pink. Tapi ketika melihat orang-orang yang menempati kursi-kursi didepanku. Membuatku malas untuk membuka mata. Aku ingin segera bangun. Aku ingin segera bangun dari tidurku ini,meskipun aku tau ini dunia nyata dan bukan mimpi, tapi aku sangat berharap ini adalah mimpi buruk dan aku akan segera bangun di kasurku dengan alarm jam weker. Itu mustahil.... Bu Nani wali kelasku disini menyuruhku memperkenalkan diri. Tanpa basa-basi aku langsung memperkenalkan diri "hay,namaku riana andin,kalian bisa panggil aku andin. Hanya andin tanpa riana,aku berasal dari jakarta. Rumahku diatas bukit yang jauh disana,aku gatau nama bukitnya apa. Dan aku datang kesini jalan kaki,makanya aku kucel." omonganku polos setengah curhat. Semua orang di ruangan bertembok pink itu hanya melongo mendengar penjelasanku. Setelah itu bu nani menyuruh ku duduk semua kursi disini sudah terisi kecuali kursi diujung paling belakang. Sangat terpaksa, aku duduk disana dan....,sendirian. ditengah-Tengah pelajaran, tiba-tiba aku ingin buang air kecil,lalu aku beranjak dari kursi ku dan meminta izin kepada guru matematika yang sangat membuatku ngantuk karena materi ini sudah diajarkan di jakarta untuk permisi ke toilet. "permisi pa,saya mau izin ke kamar mandi"ujarku. "oke,tapi bukankah anda murid baru ya?apakah anda sudah tau letak kamar mandi disini?"jawabnya sangat baku. Aku hanya nyengir, lalu tiba-tiba seseorang berdiri dari kursinya dan berjalan kedepan. "biar saya saja yang mengantar pak" ujarnya, "oke bagus amira" jawab guru itu. Lalu aku dan cewek yang bernama amira itu berjalan keluar kelas dan menuju kamar mandi,oh anak ini bernama amira,nama yang cukup bagus untuk wilayah seperti ini,aku dan amira sama-sama membisu selama berjalan ke kamar mandi,dan aku masuk satu ruangan yang hanya ada satu kamar mandinya. Ketika aku keluar dari kamar mandi,barulah amira memecahkan keheningan yang ada sejak aku keluar dari kelas tadi. "ehh,kamu mau gak jalan-jalan kepantai nanti abis pulang sekolah?" ajaknya. Aku langsung mengiyaka saja karena aku pikir tidak ada salahnya aku berjalan-jalan daripada aku bosen juga kan dirumah. akhirnya bel pulang pun berbunyi,aku menghampiri amara,amarapun mengerti maksudku. Ia langsung berdiri dan langsung mengajakku untuk pergi. Jarak pantai dengan sekolahku tidak terlalu jauh. Hanya butuh 15 menit berjalan kaki untuk sampai dipantai,itupun aku sama sekali tidak merasa capek. Karena aku terus mengobrol dengan amara. Sesampainya di pantai aku hanya duduk diatas batu di pinggir pantai sambil melihat ombak yang berlomba-lomba menyapu pasir dan batu di pinggir pantai. Aku mulai intropeksi diriku yang melihat segala sesuatu itu hal yang rendah dibanding denganku. Aku tersadar sekarang tidak ada yang perlu disesali karena aku tinggal disini.untuk apa aku tinggal di jakarta yang penuh dengan polusi?dan aku hanya bisa melihat gedung-gedung tinggi? Sedangkan di sini?rumah tembok pun jarang.rumah-rumah disini hanya dari bilik-bilik rapuh. Kalaupum ada rumah tembok,itu pasti rumah orang kaya. Kendaraan disini tidak seperti dijakarta, hidup disini membuat orang menjadi lebih sehat karena lebih sering berjalan kaki. Ya tuhan mami benar,aku tidak akan menyesal hidup disini. Aku pulang kerumah dengan keadaan hati tenang dan menerima semuanya tanpa berharap kalau ini mimpi. malam ini aku mulai bisa tidur tenang sepertinya tidak seperti kemarin hatiku tak karuan karena kesal. Ketika aku berniat ke kamar mandi,karena kamar mandi disini berada diluar rumah aku mengambil senter lalu menyalakamnya dan berjalan keluar,ketika hampir 1 meter lagi aku sampai di kamar mandi aku merasa ada yang membekapku dari belakang dan sebelum melakukan perlawanan tiba-tiba aku merasakan pusing dan kepalaku sakit dan aku tak ingat apapun. Ketika aku tersadar aki sangat kaget karena didepanku adalah ayah yang sedang menangis. "ayah kenapa ada disini?kenapa aku ada disini?kenapa ayah menangis?"tanyaku heran. "ayah senang sekali sayang karena masih bisa melihat kamu walaupun dengan cara seperti ini karena ibumu tidak mengijinkan ayah bertemu denganmu lagi,ayah sayang sekali sama kamu" ujar ayah sambil menangis. Tiba-tiba hatiku terhentak "kalo ayah sayang sama aku?kenapa ayah selalu menemuiku setahun sekali?bukankah artinya ayah hanya sayang pada pekerjaan aja?waktu untuk kerjaan 364hari sedangkan waktu untukku hanya 1hari." ujarku gusar. Mata ayah semakin memerah Ia memelukku, "kamu salah sayang,selama ini mama kamu yang melarang ayah untuk bertemu denganmu,mungkin sekarang waktunya untuk ayah berbicara kepada semuanya karena sekarang kamu sudah besar,dan ayah takut ayah tidak punya kesempatan untuk membicarakan hal ini padamu karena waktu ayah tidak lama lagi" "maksud ayah apasih aku gangerti"potongku. "sayang,sebenarnya ayah tidak bekerja di aussie dan pulang setahun sekali,ayah setiap hari ada di Indonesia,ayah sebenarnya tidak punya pekerjaan,setiap hari ayah selalu memperhatikan dan mengikuti kamu kemanapun kamu pergi,sampai terakhir tadi kamu dipantai bersama seorang temanmu pun sebenarnya ayah ada sayang..sayang sebenarnya ayah bercerai dengan ibumu dari kamu masih di dalam kandungan,karena ayah mengidap penyakit HIV dan ayah tidak mau ibumu mendapat dampak buruknya" tiba-tiba mataku terasa hangat sekali dan dadaku terasa sesak seperti ingin mengeluarkan semua air yang sudah terkenang di mata ini. "sayang,waktu ayah untuk hidup hanya sebentar lagi,ayah ingin waktu terakhir ayah dihabiskan bersama kamu sayang dan ayah meminta tolong kepada mamamu untuk mengizinkan kamu tinggal bersama ayah,tapi mamamu melarangnya dan membawamu kesini". kenapa semua seperti ini?kenapa selama 15 tahun ini aku begitu bodoh,kenapa setiap ayah datang setahun sekali aku tidak pernah menyambutnya?ayah sebenarnya aku sayang ayah. Aku selalu iri setiap kali melihat teman-temanku yang begitu dekat dengan ayahnya dan sesekali mereka makan bersama denga ayah dan ibunya. Sedangkan aku? 15 tahun aku tidak pernah merasakan makan satu meja dengan ayah. Ayah aku tau kamu mendengar isi hatiku ini aku tau ayah dengar dan merasakan kalo aku juga sayang ayah. Tapi kenapa ayah?kenapa tidak dari dulu ayah mengungkap semuanya?kenapa ayah mengungkap ini semua dan aku tak sempat membalas semuanya?aku tak sempat duduk dipangkuan ayah,aku tak sempat makan satu meja dengan ayah. Kenapa Sekarang ayah malah membeku dihadapanku?kenapa ayah berbaring dengan kedua tangan ayah di perut dan kenapa badan ayah begitu dingin?apa ayah tak memberikan kesempatan untuk aku untuk merasakan kasih sayang ayah?ayah kenapa kau menghembuskan nafas terkahir ketika ayah memeluku dan aku tidak sempat membalas pelukan ayah. Terimakasih ayah,aku bangga punya ayah seperti ayah, ayah maafkan aku yang tak menyadari keberadaanmu dan hanya menganggapmu angin lewat. Selamat jalan ayah, tunggu aku disurga.
. AYAH,MAAFKAN AKU penulis : @vanyasitar
Aku benci masuk sekolah ini,sekolah kumuh sekolah lusuh kenapa sih mami masukin aku ke sekolah kaya gini?emangya gak ada sekolah lain apa di kota ini yang lebih bagus?disini jarang ada transportasi umum,ini benar benar kampung,aku senang sih tinggal disini untuk beberapa saat,maksudku hanya untuk liburan ya.bukan menetap sampai yang aku gak tau sama sekali berapa lama. Okey aku akui view disini sangat indah,rumahku di atas puncak bukit dan aku bisa melihat pantai dari sini. Apalagi ketika sunset,pemandangan pantai dari atas bukit itu benar-benar sangatlah indah. Rumahku yang sekarang sangatlah berbeda dengan rumahku di jakarta. Kamarku yang suhunya selalu sejuk karena AC sekarang berubah total. Suhu nya menjadi sangat tidak karuan. Kamarku yang semula penuh dengan tempelan tempelan majalah berubah hanya menjadi bilik bilik yang rapuh. Sepertinya jika ada hujan badai yang sangat besar rumahku ini akan runtuh..fiuh. disinipun angkot dijadwal,hanya lewat pukul 7 pagi,12 siang,dan 5 sore. Dan lebih parah lagi, aku sama sekali tak diperbolehkan bawa mobil ke sekolahku yang sekarang. Padahal dijakarta aku bebas menggunakan mobilku. Jika berjalan kaki aku bisa sampai ke sekolah sekitar 1 jam. Aku gak tau persis berapa kilometer jaraknya.tapi sangat bisa di bayangkan. Aku yang sudah cantik,rapi untuk pergi ke sekolah dari rumah.tiba di sekolah dengan keadaan lusuh,kucel dan tidak karuan.dan hari pertama masuk sekolah aku sama sekali tidak diantar oleh mami. Memang tidak nyasar karena hanya itu satu-satunya SMA di daerah ini, tapi setidaknya mami mengantarku untuk hari pertama saja. Entah apa yang dilakukan ayahku di jakarta sehingga aku harus tinggal disini,penjelasan mami tidak pernah jelas, Ia hanya ingin pisah dengan ayahku. Dan kembali ke kampungnya. Dan tentu saja membawa aku,anak satu-satunya. Sebenarnya aku tidak terlalu keberatan,setres,depresi dan sebagainya ketika mami memutuskan untuk bercerai dengan ayah. Karena aku dan ayah hanya pernah bertemu 15kali, perkiraan ku seperti itu,karena ayahku bekerja di aussie sejak mami menikah dengannya dan hanya pulang 1tahun sekali,itupun hanya 1hari. Dan aku tidak membiasakan diri dekat dengan ayah. Jika ayah pulang pun aku tidak menyambutnya aku hanya diam di kamar. Sampai ayah datang menghampiriku ke kamar dan menanyakan keadaanku. Selalu seperti itu saat ayah pulang. Jadi yang membuatku depresi bukan karena mami yang bercerai dengan ayah tapi karena kepindahan ku ke kampung asal mami ini,karena aku meninggalkan teman-temanku,karena aku meninggalkan club modern dance ku,karena aku meninggalkan kamarku,karena aku meninggalkan.....Alan. Alan berjanji kepadaku akan mengunjungiku 1bulan sekali. Alan lelaki sempurna,dia adalah cinta pertamaku,setelah 15 tahun aku menjaga hatiku rapat-rapat,akhirnya ada yang mampu membuatku luluh, dia Alan Winara,hidungnya mancung.itu yang paling aku suka. Aku berpacaran dengannya sudah 3 bulan.waktu yang sangat singkat sehingga kita harus terpisahkan oleh jarak. Huhuhuhhu Ketika masuk kelas,aku menyadari semua mata di kelas itu memperhatikan aku mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki,aku benar-benar risih diperhatikan seperti ini. Ruangkan kelas ini lumayan bagus karena temboknya berwarna pink muda,yayyy i love pink. Tapi ketika melihat orang-orang yang menempati kursi-kursi didepanku. Membuatku malas untuk membuka mata. Aku ingin segera bangun. Aku ingin segera bangun dari tidurku ini,meskipun aku tau ini dunia nyata dan bukan mimpi, tapi aku sangat berharap ini adalah mimpi buruk dan aku akan segera bangun di kasurku dengan alarm jam weker. Itu mustahil.... Bu Nani wali kelasku disini menyuruhku memperkenalkan diri. Tanpa basa-basi aku langsung memperkenalkan diri "hay,namaku riana andin,kalian bisa panggil aku andin. Hanya andin tanpa riana,aku berasal dari jakarta. Rumahku diatas bukit yang jauh disana,aku gatau nama bukitnya apa. Dan aku datang kesini jalan kaki,makanya aku kucel." omonganku polos setengah curhat. Semua orang di ruangan bertembok pink itu hanya melongo mendengar penjelasanku. Setelah itu bu nani menyuruh ku duduk semua kursi disini sudah terisi kecuali kursi diujung paling belakang. Sangat terpaksa, aku duduk disana dan....,sendirian. ditengah-Tengah pelajaran, tiba-tiba aku ingin buang air kecil,lalu aku beranjak dari kursi ku dan meminta izin kepada guru matematika yang sangat membuatku ngantuk karena materi ini sudah diajarkan di jakarta untuk permisi ke toilet. "permisi pa,saya mau izin ke kamar mandi"ujarku. "oke,tapi bukankah anda murid baru ya?apakah anda sudah tau letak kamar mandi disini?"jawabnya sangat baku. Aku hanya nyengir, lalu tiba-tiba seseorang berdiri dari kursinya dan berjalan kedepan. "biar saya saja yang mengantar pak" ujarnya, "oke bagus amira" jawab guru itu. Lalu aku dan cewek yang bernama amira itu berjalan keluar kelas dan menuju kamar mandi,oh anak ini bernama amira,nama yang cukup bagus untuk wilayah seperti ini,aku dan amira sama-sama membisu selama berjalan ke kamar mandi,dan aku masuk satu ruangan yang hanya ada satu kamar mandinya. Ketika aku keluar dari kamar mandi,barulah amira memecahkan keheningan yang ada sejak aku keluar dari kelas tadi. "ehh,kamu mau gak jalan-jalan kepantai nanti abis pulang sekolah?" ajaknya. Aku langsung mengiyaka saja karena aku pikir tidak ada salahnya aku berjalan-jalan daripada aku bosen juga kan dirumah. akhirnya bel pulang pun berbunyi,aku menghampiri amara,amarapun mengerti maksudku. Ia langsung berdiri dan langsung mengajakku untuk pergi. Jarak pantai dengan sekolahku tidak terlalu jauh. Hanya butuh 15 menit berjalan kaki untuk sampai dipantai,itupun aku sama sekali tidak merasa capek. Karena aku terus mengobrol dengan amara. Sesampainya di pantai aku hanya duduk diatas batu di pinggir pantai sambil melihat ombak yang berlomba-lomba menyapu pasir dan batu di pinggir pantai. Aku mulai intropeksi diriku yang melihat segala sesuatu itu hal yang rendah dibanding denganku. Aku tersadar sekarang tidak ada yang perlu disesali karena aku tinggal disini.untuk apa aku tinggal di jakarta yang penuh dengan polusi?dan aku hanya bisa melihat gedung-gedung tinggi? Sedangkan di sini?rumah tembok pun jarang.rumah-rumah disini hanya dari bilik-bilik rapuh. Kalaupum ada rumah tembok,itu pasti rumah orang kaya. Kendaraan disini tidak seperti dijakarta, hidup disini membuat orang menjadi lebih sehat karena lebih sering berjalan kaki. Ya tuhan mami benar,aku tidak akan menyesal hidup disini. Aku pulang kerumah dengan keadaan hati tenang dan menerima semuanya tanpa berharap kalau ini mimpi. malam ini aku mulai bisa tidur tenang sepertinya tidak seperti kemarin hatiku tak karuan karena kesal. Ketika aku berniat ke kamar mandi,karena kamar mandi disini berada diluar rumah aku mengambil senter lalu menyalakamnya dan berjalan keluar,ketika hampir 1 meter lagi aku sampai di kamar mandi aku merasa ada yang membekapku dari belakang dan sebelum melakukan perlawanan tiba-tiba aku merasakan pusing dan kepalaku sakit dan aku tak ingat apapun. Ketika aku tersadar aki sangat kaget karena didepanku adalah ayah yang sedang menangis. "ayah kenapa ada disini?kenapa aku ada disini?kenapa ayah menangis?"tanyaku heran. "ayah senang sekali sayang karena masih bisa melihat kamu walaupun dengan cara seperti ini karena ibumu tidak mengijinkan ayah bertemu denganmu lagi,ayah sayang sekali sama kamu" ujar ayah sambil menangis. Tiba-tiba hatiku terhentak "kalo ayah sayang sama aku?kenapa ayah selalu menemuiku setahun sekali?bukankah artinya ayah hanya sayang pada pekerjaan aja?waktu untuk kerjaan 364hari sedangkan waktu untukku hanya 1hari." ujarku gusar. Mata ayah semakin memerah Ia memelukku, "kamu salah sayang,selama ini mama kamu yang melarang ayah untuk bertemu denganmu,mungkin sekarang waktunya untuk ayah berbicara kepada semuanya karena sekarang kamu sudah besar,dan ayah takut ayah tidak punya kesempatan untuk membicarakan hal ini padamu karena waktu ayah tidak lama lagi" "maksud ayah apasih aku gangerti"potongku. "sayang,sebenarnya ayah tidak bekerja di aussie dan pulang setahun sekali,ayah setiap hari ada di Indonesia,ayah sebenarnya tidak punya pekerjaan,setiap hari ayah selalu memperhatikan dan mengikuti kamu kemanapun kamu pergi,sampai terakhir tadi kamu dipantai bersama seorang temanmu pun sebenarnya ayah ada sayang..sayang sebenarnya ayah bercerai dengan ibumu dari kamu masih di dalam kandungan,karena ayah mengidap penyakit HIV dan ayah tidak mau ibumu mendapat dampak buruknya" tiba-tiba mataku terasa hangat sekali dan dadaku terasa sesak seperti ingin mengeluarkan semua air yang sudah terkenang di mata ini. "sayang,waktu ayah untuk hidup hanya sebentar lagi,ayah ingin waktu terakhir ayah dihabiskan bersama kamu sayang dan ayah meminta tolong kepada mamamu untuk mengizinkan kamu tinggal bersama ayah,tapi mamamu melarangnya dan membawamu kesini". kenapa semua seperti ini?kenapa selama 15 tahun ini aku begitu bodoh,kenapa setiap ayah datang setahun sekali aku tidak pernah menyambutnya?ayah sebenarnya aku sayang ayah. Aku selalu iri setiap kali melihat teman-temanku yang begitu dekat dengan ayahnya dan sesekali mereka makan bersama denga ayah dan ibunya. Sedangkan aku? 15 tahun aku tidak pernah merasakan makan satu meja dengan ayah. Ayah aku tau kamu mendengar isi hatiku ini aku tau ayah dengar dan merasakan kalo aku juga sayang ayah. Tapi kenapa ayah?kenapa tidak dari dulu ayah mengungkap semuanya?kenapa ayah mengungkap ini semua dan aku tak sempat membalas semuanya?aku tak sempat duduk dipangkuan ayah,aku tak sempat makan satu meja dengan ayah. Kenapa Sekarang ayah malah membeku dihadapanku?kenapa ayah berbaring dengan kedua tangan ayah di perut dan kenapa badan ayah begitu dingin?apa ayah tak memberikan kesempatan untuk aku untuk merasakan kasih sayang ayah?ayah kenapa kau menghembuskan nafas terkahir ketika ayah memeluku dan aku tidak sempat membalas pelukan ayah. Terimakasih ayah,aku bangga punya ayah seperti ayah, ayah maafkan aku yang tak menyadari keberadaanmu dan hanya menganggapmu angin lewat. Selamat jalan ayah, tunggu aku disurga.
Langganan:
Komentar (Atom)