Senin, 30 Juli 2018

DIORAMA

"harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia tapi kita dalam diorama".
"harusnya sisa masa kubuat indah menukar sejarah tapi kita dalam diorama".

Entah apa yang ada di presepsi orang lain ketika mendengarkan lagu Diorama -nya Tulus, aku menjadi teringat suatu kisah ketika mendengar lagu itu. 

Satu kisah dimana tidak ada penjelasan, hanya diterka-terka, hanya sekedar "mungkin".

Hari itu entah kenapa Ia tidak seperti biasanya, Hari itu aku merasa Ia lebih perhatian dari sebelumnya, hari itu kita mengisi hari dengan bertukar kabar dari pagi hingga menjelang tidur. 
bahkan hari-hari berikutnya, sampai akhirnya kita bertemu. 

tetapi setelah pertemuan itu tidak ada lagi komunikasi, perhatian, sama sekali tidak ada, aku berpikir mungkin oke seperti sebelum-sebelumnya, rasa rindunya sudah hilang, makanya Ia tidak "meneruskan".

lalu hari berganti hari, akhirnya ketika luka lama ku mulai reda, aku kembali kepada orang itu, sampai ada satu moment dimana media sosial lah yang berpengaruh. Hari itu potretku ada di media sosial orang itu. lalu entah kenapa setelah melihat hal tersebut, Ia membuat sebuah unggahan dengan tulisan "Pergilah Jangan Kau Kembali".

Melihat postingan itu aku mulai kepikiran dan berpikir apakah itu untukku? Jika memang iya, mengapa bisa aku tidak peka, aku pikir Ia datang hanya untuk melepas kerinduan saja seperti biasanya tanpa ada maksud lain. 

semuanya sudah terjadi, tetapi tidak ada yang bisa dirubah dari hubungan ini. mungkin karena kita seperti Diorama, dan Allah lah yang menjadi Seniman nya. karena setelah bertahun-tahun pun kita tetap tidak bisa bersama.

Rabu, 04 Juli 2018

Tersadar

Mengapa perasaan yang sudah ada bertahun-tahun lamanya masih selalu sama hingga saat ini.
Masih selalu berdebar ketika bertatap muka.
Masih selalu gugup ketika saling berbicara.
Dan masih selalu khawatir ketika tidak bertukar kabar.
Masih teringat bagaimana bahagianya ketika hubungan kita masih baik-baik saja meskipun sudah tak bersama.
Tetapi sekarang, mungkin untuk sekedar besenda gurau saja kamu enggan.
Apakah sebenci itu?
Malam itu menjelang shubuh, membuatku semakin tersadar, bahwa perasaanmu sudah benar-benar hilang. Hingga pagi menjelang, melihatmu membuatku ingin menangis sekencang-kencangnya.
Pagi yang dingin, hanya melihat punggungmu saja membuat hatiku seperti tertusuk pedang panas.
Pagi itu, kamu tidak tau, dalam dekapanmu aku menangis, hatiku sakit. Karena aku mulai tersadar, dekapanmu hanya untuk saat itu saja.
Tersadar betapa bodohnya aku yang sebelumnya merengek meminta kejelasan tetapi kembali tenggelam kedalam pemanfaatan yang kamu bicarakan.
Sulit untuk menyalahkan siapapun, sulit untuk menghapus ingatan itu. Sulit pula untuk menghadapi kenyataan bahwa hal itu tidak didasari dengan kasih sayang, melainkan hanya peluang.